Pengujian kapasitas stamina menyeluruh dilakukan melalui susunan lintasan halang rintang yang menuntut pengerahan seluruh kelompok otot tubuh. Sama halnya seperti pengujian daya cengkeram mekanis pada perangkat teknis, tolok ukur kekuatan fisik atlet diuji melalui ketahanan menahan beban dorong dan gesekan di medan ekstrem. Kombinasi tahapan merayap rendah, memanjat dinding tinggi, serta sprint berulang menguji batas toleransi asam laktat atlet.
Pengukuran tingkat kekuatan fisik dimulai dengan navigasi merayap di bawah rintangan rendah yang memaksa otot inti dan dada bekerja maksimal. Atlet dituntut untuk bergerak cepat menyusuri tanah tanpa menaikkan posisi pinggul agar tidak tersangkut jaring pembatas.
Fase memanjat tali atau dinding vertikal menguji daya cengkeram jemari serta kekuatan otot punggung dalam menarik beban tubuh ke atas. Teknik tumpuan kaki yang efisien sangat membantu mengurangi kelelahan berlebih pada bagian lengan saat melakukan panjatan cepat.
Transisi dari fase panjatan menuju sprint lari jarak pendek memaksa sistem kardiovaskular menyesuaikan pasokan oksigen secara mendadak. Atlet harus mampu mengontrol irama pernapasan agar ritme lari tetap stabil walau otot tubuh bagian atas mengalami kelelahan berat.
Latihan halang rintang terpadu ini membangun ketahanan mental tangguh serta daya tahan tubuh yang serbaguna untuk berbagai cabang olahraga. Kecepatan pemulihan fisik di sela-sela pergantian rintangan menjadi indikator utama tingkat kebugaran atlet.
Data catatan waktu dan tingkat kelelahan dari pengujian ini menjadi bahan acuan bagi tim pelatih untuk menyusun program penguatan fisik susulan. Peningkatan kapasitas daya tahan tubuh secara konsisten mempersiapkan atlet menghadapi tekanan kompetisi tingkat tinggi.