Di era digital saat ini, kecanduan gawai atau gadget telah menjadi tantangan serius bagi kesehatan mental dan fisik generasi muda, tidak terkecuali para mahasiswa. Durasi penggunaan layar yang berlebihan berkontribusi pada gaya hidup sedenter, gangguan tidur, hingga penurunan kemampuan sosialisasi secara langsung. Menanggapi fenomena ini, BAPOMI (Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia) menginisiasi sebuah gerakan yang memposisikan Olahraga sebagai Terapi. Melalui berbagai program kompetisi dan latihan rutin, mahasiswa diajak untuk melepaskan diri dari layar ponsel dan kembali berinteraksi dengan dunia nyata melalui aktivitas fisik yang menyehatkan.

Aktivitas fisik terbukti secara ilmiah mampu merangsang pelepasan hormon endorfin dan dopamin secara alami, yang memberikan rasa bahagia dan puas. Rasa puas yang didapatkan dari pencapaian di lapangan jauh lebih sehat dan berkelanjutan dibandingkan dengan dopamin instan yang didapat dari media sosial. Dalam program BAPOMI, mahasiswa diberikan wadah untuk menyalurkan energi mereka ke dalam kegiatan yang produktif. Dengan jadwal latihan yang terstruktur, waktu luang yang biasanya digunakan untuk bermain gawai dialihkan untuk mengasah keterampilan atletik. Ini adalah metode pengalihan perhatian yang sangat efektif untuk mereduksi perilaku kompulsif terhadap perangkat digital.

Selain aspek biokimia, olahraga juga melatih kembali kemampuan fokus dan atensi mahasiswa. Kecanduan gadget sering kali memperpendek rentang perhatian (attention span) karena otak terbiasa dengan rangsangan yang cepat dan berubah-ubah. Sebaliknya, berlatih olahraga menuntut konsentrasi yang dalam dan durasi yang panjang. Melalui Terapi olahraga, mahasiswa belajar untuk menghargai proses, disiplin dalam latihan, dan ketekunan dalam mencapai target. Kemampuan fokus yang kembali terasah ini berdampak positif pada performa akademis mereka, di mana mereka menjadi lebih mampu berkonsentrasi saat membaca buku atau mendengarkan penjelasan dosen di dalam kelas tanpa merasa gelisah ingin mengecek notifikasi ponsel.

Interaksi sosial yang terjadi selama kegiatan olahraga juga berperan penting dalam memulihkan kecakapan interpersonal yang sering kali tumpul akibat terlalu banyak berkomunikasi secara virtual. Di bawah naungan Program BAPOMI, mahasiswa dari berbagai latar belakang dipertemukan dalam satu tim. Mereka belajar bekerja sama, berkomunikasi secara verbal, dan memahami empati melalui pengalaman fisik bersama. Hubungan pertemanan yang dibangun di lapangan jauh lebih kuat dan nyata. Rasa memiliki terhadap sebuah komunitas olahraga memberikan dukungan emosional yang kuat, sehingga keinginan untuk mencari validasi di dunia maya berkurang secara signifikan.

Kategori: Berita