Sering kali terdapat anggapan yang salah bahwa seorang olahragawan tidak perlu terlalu fokus pada pendidikan formal. Stigma “otot besar, otak kosong” telah lama menghantui dunia olahraga kita. Namun, Bapomi Pelalawan hadir untuk meruntuhkan tembok persepsi tersebut melalui program inovatif bertajuk “Program Kakak Asuh“. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap talenta muda di Kabupaten Pelalawan tidak hanya tangguh di arena pertandingan, tetapi juga cemerlang di dalam ruang kelas, menciptakan profil seorang atlet cerdas yang siap menghadapi tantangan zaman.
Pelaksanaan program ini melibatkan mahasiswa berprestasi dan dosen muda yang bertindak sebagai mentor bagi para atlet junior. Tantangan utama seorang olahragawan muda adalah membagi waktu antara jadwal latihan yang padat dengan tugas-tugas sekolah yang menumpuk. Sering kali, karena kelelahan setelah berlatih, nilai akademik mereka menurun, bahkan ada yang terancam putus sekolah. Melalui bimbingan kakak asuh, para atlet ini mendapatkan bantuan tambahan untuk memahami materi pelajaran yang tertinggal, bimbingan belajar intensif, hingga motivasi untuk tetap mencintai dunia literasi.
Bapomi Pelalawan menyadari bahwa pendidikan adalah fondasi utama bagi karakter seorang manusia. Dengan menjaga performa akademik, para atlet ini memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi. Mereka diajarkan bahwa disiplin di lapangan harus selaras dengan disiplin dalam belajar. Program ini merupakan upaya sadar untuk jaga keseimbangan antara perkembangan fisik dan intelektual. Seorang atlet yang cerdas akan lebih mudah memahami strategi pelatih, memiliki kemampuan komunikasi yang baik dengan media, dan mampu mengelola emosi serta masa depannya dengan lebih bijaksana.
Keberhasilan Program Kakak Asuh terlihat dari meningkatnya rata-rata nilai rapor para atlet binaan Bapomi di Pelalawan. Tidak ada lagi ketakutan dari pihak orang tua bahwa anak mereka akan tertinggal secara intelektual jika terlalu fokus berolahraga. Justru, olahraga menjadi pemicu bagi mereka untuk belajar lebih efisien. Bapomi juga memberikan penghargaan khusus bagi “Atlet Akademisi Terbaik” setiap tahunnya untuk merangsang kompetisi sehat di luar urusan fisik. Pelalawan ingin mengirimkan pesan bahwa menjadi juara dunia tidak harus mengorbankan ijazah sekolah.
Melalui pendekatan yang humanis, kakak asuh tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teman curhat yang membantu stabilitas mental para atlet. Tekanan untuk selalu menang di lapangan sering kali membuat mental remaja terguncang.