Komitmen terhadap Pemulihan Ekosistem Riau menjadi agenda utama BAPOMI Pelalawan pasca kerusakan lingkungan yang masif. Mereka meluncurkan gerakan reboisasi ambisius yang menyasar dua jenis area kritis yang berbeda ekologinya.
BAPOMI Pelalawan Pimpin Reboisasi Hutan primer dan sekunder yang telah terdegradasi akibat kebakaran dan illegal logging. Langkah ini vital untuk mengembalikan fungsi hidrologis hutan sebagai penahan air dan penyedia oksigen.
Proyek ini menggunakan bibit tanaman endemik yang dipilih berdasarkan ketahanan dan kecepatan tumbuhnya, memastikan keberhasilan jangka panjang. Mahasiswa fakultas kehutanan berperan sebagai konsultan teknis dalam penentuan lokasi tanam.
Selain Reboisasi Hutan, BAPOMI juga fokus pada Area Pesisir yang Rusak Parah, terutama ekosistem mangrove yang terkikis abrasi dan polusi. Penanaman mangrove baru dilakukan untuk memperkuat garis pantai dan melindungi dari intrusi air laut.
Dengan memimpin proyek reboisasi di dua ekosistem berbeda, BAPOMI Pelalawan menunjukkan pemahaman mendalam tentang Pemulihan Ekosistem Riau secara holistik. Setiap area memerlukan pendekatan dan spesies tanaman yang spesifik.
Keterlibatan masyarakat lokal, terutama kelompok nelayan dan petani, sangat diutamakan dalam inisiatif ini. Mereka dilatih untuk merawat pohon yang ditanam, menjamin keberlanjutan program reboisasi di Area Pesisir yang Rusak Parah.
Gerakan ini bukan hanya menanam pohon, tetapi membangun kesadaran kolektif bahwa lingkungan yang sehat adalah investasi bagi masa depan sosial ekonomi masyarakat. BAPOMI berperan sebagai inisiator perubahan positif ini.
BAPOMI Pelalawan telah memposisikan diri sebagai pemimpin gerakan Pemulihan Ekosistem Riau yang aktif dan terstruktur. Reboisasi ini adalah harapan bagi regenerasi lingkungan setelah kerusakan parah terjadi.
Melalui Reboisasi Hutan dan Area Pesisir yang Rusak Parah, BAPOMI Pelalawan membuktikan bahwa solusi lingkungan yang efektif lahir dari kolaborasi antara ilmu pengetahuan, aksi relawan, dan partisipasi komunitas.