Pencarian bakat dalam dunia olahraga telah berevolusi dari sekadar pengamatan subjektif pelatih menjadi proses yang sangat sistematis dan terukur. Salah satu pendekatan yang paling populer di negara-negara maju adalah Metode TID atau Talent Identification and Development. Metode ini tidak hanya mencari siapa yang paling jago saat ini, tetapi mencari siapa yang memiliki parameter fisiologis dan psikologis untuk menjadi juara di masa depan. Di lingkungan universitas, metode ini menjadi sangat relevan karena mahasiswa berada pada fase usia emas di mana kapasitas fisik masih bisa dioptimalkan secara maksimal sebelum memasuki dunia profesional yang sesungguhnya.
Menemukan cara ilmiah dalam penyaringan bakat melibatkan serangkaian tes antropometri dan biomotor. Pengukuran meliputi tinggi badan, rentang lengan, rasio panjang tungkai, hingga komposisi lemak tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik cabang olahraga tertentu. Misalnya, seorang mahasiswa dengan rentang lengan yang jauh melebihi tinggi badannya mungkin memiliki bakat alami untuk menjadi perenang atau pemain bola basket. Dengan data yang akurat, pelatih dapat mengarahkan mahasiswa ke cabang olahraga yang paling sesuai dengan profil genetiknya, sehingga proses latihan menjadi lebih efisien dan kemungkinan untuk meraih prestasi menjadi jauh lebih besar dibandingkan hanya berdasarkan minat semata.
Penggalian potensi atlet juga tidak boleh mengabaikan aspek psikologis dan kematangan saraf. Seorang individu mungkin memiliki fisik yang sempurna, namun tanpa ketangguhan mental, disiplin, dan kemampuan belajar yang cepat, potensi tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan. Dalam metode TID, dilakukan pula pengujian terhadap waktu reaksi, koordinasi mata-tangan, serta profil kepribadian untuk melihat tingkat kepemimpinan dan ketahanan stres. Di tingkat universitas, di mana tekanan akademik sangat tinggi, kemampuan mahasiswa untuk menyeimbangkan beban pikiran dan beban fisik menjadi indikator penting dalam memprediksi keberhasilan jangka panjang mereka di arena olahraga.
Bagi seorang mahasiswa, menyadari potensi dirinya melalui tes profesional dapat memberikan arah karier yang lebih jelas. Sering kali, banyak mahasiswa yang memiliki bakat luar biasa namun tidak pernah tersentuh karena sistem seleksi di kampus masih bersifat tradisional atau hanya berdasarkan hobi. Dengan adanya sistem identifikasi bakat yang terintegrasi di unit kegiatan mahasiswa (UKM), kampus dapat menjadi pabrik atlet nasional yang berkelanjutan. Program pengembangan selanjutnya setelah identifikasi adalah memberikan pelatihan yang tersegmentasi, dukungan nutrisi yang tepat, serta pemantauan kemajuan berbasis data secara periodik untuk memastikan kurva prestasi terus meningkat.