Kegiatan kemanusiaan sering kali melampaui kebutuhan fisik dasar seperti pangan dan kesehatan, menyentuh aspek spiritual yang sangat mendasar bagi masyarakat. Di Kabupaten Pelalawan, para mahasiswa yang tergabung dalam gerakan BAPOMI Kirim Bantuan Perlengkapan Ibadah ke Sumbar menunjukkan kepekaan tersebut melalui inisiatif unik namun sangat bermakna. Saat wilayah tetangga di Sumatera Barat dilanda musibah yang merusak banyak fasilitas umum, mahasiswa BAPOMI segera mengonsolidasikan kekuatan untuk mengumpulkan bantuan yang dapat membantu memulihkan kehidupan religius warga di lokasi pengungsian maupun di desa-desa terdampak.
Program utama dari BAPOMI Pelalawan kali ini adalah mengumpulkan dan mendistribusikan kebutuhan pendukung ibadah. Mereka menyadari bahwa di tengah duka dan kehilangan harta benda, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta adalah salah satu sumber kekuatan terbesar bagi para korban. Namun, saat rumah terendam atau rusak, banyak perlengkapan ibadah warga yang hilang atau tidak layak pakai lagi. Oleh karena itu, mahasiswa bergerak dengan target donasi yang spesifik agar bantuan yang diberikan memiliki nilai manfaat spiritual yang mendalam bagi warga yang sedang mengalami cobaan hidup.
Langkah nyata yang dilakukan adalah untuk segera kirim bantuan yang terdiri dari ribuan paket perlengkapan sekolah dan ibadah. Tim relawan mahasiswa mengumpulkan mukena, sajadah, sarung, Al-Qur’an, hingga karpet untuk tempat ibadah darurat. Proses pengemasan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk memastikan kesucian dan kebersihan barang-barang tersebut saat sampai di tangan warga. Mahasiswa Pelalawan menunjukkan profesionalisme dalam mengorganisir bantuan ini, memastikan bahwa setiap rupiah yang didonasikan oleh warga Pelalawan benar-benar dikonversikan menjadi barang berkualitas tinggi yang layak digunakan untuk beribadah.
Penyaluran bantuan ini secara khusus diarahkan menuju wilayah perlengkapan ibadah yang sangat dibutuhkan di berbagai titik di Sumatera Barat. Fokus distribusi adalah masjid-masjid dan mushalla yang terdampak banjir, serta posko-posko pengungsian di mana warga banyak berkumpul. Dengan tersedianya alat ibadah yang baru dan bersih, warga dapat kembali melaksanakan kewajiban agama dengan lebih nyaman dan khusyuk. Hal ini secara tidak langsung membantu proses pemulihan psikologis (trauma healing) bagi warga, karena ibadah memberikan rasa tenang dan stabilitas emosional di tengah kekacauan pasca bencana yang melanda wilayah tersebut.